Setelah
Kejaksaan Agung mengumumkan menghentikan penyelidikan kasus BLBI
Sjamsul Nursalim pada 29 Februari 2008, ternyata Kemas Yahya Rahman
(saat itu Jampidsus) ternyata saling berkomunikasi dengan Artalyta
Suryani. Berikut petikan percakapan:
Artalyta (A)
Kemas (K)
A:Halo.
K:Halo.
A:Ya, siap.
K:Sudah dengar pernyataan saya? Hehehe.
A:Good, very good.
K:Jadi tugas saya sudah selesai.
A:Siap, tinggal…
K:Sudah jelas itu gamblang. Tidak ada permasalahan lagi.
A:Bagus itu.
K:Tapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka?
A:Aaah Rakyat Merdeka nggak usah dibaca.
K:Bukan, saya mau dicopot hahaha. Jadi gitu ya…
A:Sama ini mas, saya mau informasikan.
K:Yang mana?
A:Masalah si Joker.
K:Ooooo nanti, nanti, nanti.
A:Nggak, itu kan saya perlu jelasin, Bang.
K:Nanti, nanti, tenang saja.
A:Selasa saya kesitu ya…
K:Nggak usah, gampang itu, nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah
pesan dari sana. Kita….
A:Iya sudah.
K:Sudah sampai itu.
A:Tapi begini Bang…
K:Jadi begini, ini sudah telanjur kita umumkan. Ada alasan lain, nanti
dalam perencanaan.
PERCAKAPAN AYIN DENGAN UNTUNG UDJI SANTOSO
Beberapa jam selesai jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap pada 2 Maret 2008.
Artalyta Suryani panik dan langsung menelpon Jamdatun Untung Udji Santoso.
Untung (U)
Artalyta (A)
U:Memang dikasih berapa duit?
A:660 ribu dolar.
U:4 M.
A:6 M.
U:Lailahailallah!
A:Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?
U:Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.
A:Jadi gimana?
U:Tak pikir enam atus juto gitu.
A:Nggak, itu banyak. Gimana?
U:Itu untuk siapa?
A:Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?
U:Adu biyung gimana?
A:Heh.
U:Sik…sik. .. Kalau kayak gitu, susah itu.
A:Aku kena loh, Mas kayak gini.
U:Lah iya.
A:Aku bilang kan ajudanku.
U:Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes.
Gimana caranya hubungi Antasari.
A:Ya, coba sampeyan telepon dulu.
U:Udah, mati teleponnya.
A:Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri
Wibisono) suruh nyari.
U:Feri juga nggak ngangkat.
A:Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.
U:(terdiam lama).
A:Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang
juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh
seseorang dirumahnya melalkukan sesuatu).
U:Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.
A:Ya, dimana dia rumahnya?
U:Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi
jangan,jangan ke rumahnya. Ketemu dimana, di hotel atau dimana gitu deh.
A:Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia,
Mas.Kan nggak kentara kalau sampeyan.
U:Ya, iya. Tapi teleponnya aku nggak ngerti rumahnya (suara Untung
terdengar gelagapan). Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu
(Jamintel Wisnu Subroto).
A:Sekarang susulin.
U:Tak telepon dulu.
A:Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.
U:Aku udah telpon Wisnu, demi Allah ini.
A:Kata Wisnu apa?
U:Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor
lainnya nggak? Nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu
padanya ke Artalyta).
A:Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan
kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.
U:Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.
A:Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (Jaksa Urip) maksa (ambil
uang US$ 660 ribu) hari ini.
U:Uhhh, kacau kabeh. (menghela nafas). Saya kira you di rumah saja. Nanti
you ditangkep kejaksaan.
A:Hah?
U:Ditangkep oleh jekso. Mau diskenariokan gitu loh…
A:Hah? Kenapa-kenapa Mas?
U:Mau diskenariokan begitu. Namun , neng endi iki?
A:Nggak, udah aman. Ini nomor lain. Aku di dalem rumah.
U:Nanti biar saja, kamu nanti yang ngambil kejaksaan.
A:Ho..oh
U:Si Urip (Jaksa Urip Tri Gunawan) dicekal KPK. Awakmu di kejaksaan. Loh
ini kok sudah penyelesaian begini. Kok ada uang begini. Maksudnya apa
begini loh kenapa-kenapa?
A:Kan saya bilang, saya tidak ada keterkaitannya juga dengan BLBI dan saya
nggak ada….
U:Jangan ngomong begitu. Nggak ada keterkaitannya. Biar saya saja yang
mancing. Bilang saja ada hubungan dagang sama dia. Terserahlah.
A:Lalu bilang apa?
PERCAKAPAN AYIN DENGAN URIP TRI GUNAWAN
Urip-Artalyta intens melakukan komunikasi. Salah satu rekamannya,
percakapan 27 Februari 2008, sore hari setelah Kejagung mengumumkan
penutupan penyelidikan kasus BLBI II.
Artalyta (A)
Urip (U)
A:Halo? Sudah beres?
U:Sip. Sudah beres. Pokoknya nggak ada macam-macam.
A:Pokoknya ini Minggu (2 Maret 2008), aku sudah ada. Aku sudah siap.
(Inimaksudnya adalah Dana suap sebesar US$ 660 ribu).
U:Garuk-garuk ya? Aku kan garuk-garuk tangan ini.
A:Garuk-garuk tangan?
U:Ngerti toh?
A:Oh iya..
U:Pokoknya tenang aja, aman sekali pokoknya.
A:Ya udah ini jangan terlalu lama, barang itu di rumahku kelamaan, di
brankasku.
U:Aku kan juga mengamankan dokumen-dokumen itu semua nanti ya itu kan. Yang
ex-ex kemarin itu harus tak amankan semua. Jangan sampai muncul
kemana-mana. Tapi sesuai aku bilang kemaren nggak ini.
A:Yang bilang kemarin berapa? Kan enam.
U:Belum bonusnya ya? Aku garuk-garuk kepala itu?
A:Aku udah komit, aku udah putus bicara itu sama ibu.
U:Gitu ya…tambahi dikitlah…
2 Maret 2008, atau dua hari setelah Kejagung menghentikan penyelidikan kasus
BLBI. Kembali keduanya melakukan percakapan ketika hendak mengambil uang di
kediaman Hang Lekir.
U:Jalan apa?
A:Terusan Hang Lekir. Kawasan Simprug WG9. WG nomor sembilan. Rumahnya itu
di huk, yang gede tinggi itu.
U:Nomor mobil DK 1832. Halo ibu, saya sudah di depan rumah ini.
A:Ooo klakson aja klakson.
Entries (RSS)